Senin, 12 Maret 2012

PENDIDIKAN DI MESIR


                                                            MAKALAH
                                PERBANDINGAN PENDIDIKAN DI MESIR
        Mata Kuliah                    : Pebandingan Pendidikan
        Dosen Pengampu            : Mukhlisin, M.Ag 
                                           

Disusun Oleh:
1.     M. Nur Hasanudin                  202 109 004
2.     Ahmad Syafi’i                        202 109 005
3.     Ahmad Afik                           202 109 006
4.     Imam Turyuti                          202 109 046
Kelas A
                    SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
                                    (STAIN) PEKALOGAN
                                JURUSAN TARBIYAH/PAI
                                                    2011


                                                    BAB I
PENDAHULUAN
Mesir yang terkenal dengan sebutan ardhul anbiyâ (negeri para nabi), memang telah menjadi kiblat keilmuan keislaman dunia. Di samping mempunyai segudang peradaban, negeri seribu menara ini juga merupakan gudang segala ilmu. Negara ini seakan memiliki magnet tersendiri. Terbukti, Mesir telah memikat jutaan hati para pelajar dari berbagai penjuru dunia untuk menimba ilmu di sana. Tentunya, semua ini tak lepas dari peran al-Azhar: pusat pendidikan tertua yang telah melahirkan banyak ulama dunia.
Di sini, pemakalah akan memaparkan sedikit tentang potret pendidikan Mesir. Keberhasilan pendidikan memiliki hubungan erat dengan kemajuan sebuah negara. Sumber Daya Manusia (SDM) yang bermutu, tentunya akan memberikan kontribusi bagi perkembangan sebuah negara, bahkan dunia. Dari sini, setidaknya kita perlu memberikan perhatian yang lebih pada pendidikan.
Namun demikian, pemakalah hanyalah manusia biasa yang tak lepas dari kesalahan, dimana hal tersebut memerlukan kritik dan saran dari para pembaca demi kepentingan bersama agar kedepannya bisa lebih baik lagi.
BAB II
PEMBAHASAN
A.   Potret Sistem Pemerintahan di Mesir
Mesir berbentuk Republik sejak 18 Juni 1953, Mesir adalah Negara pertama yang mengakui kedaulatan Indonesia. Mohamed Hosni Mubarak telah menjabat menjadi presiden Mesir selama lima periode, sejak 14 Oktober 1981 setelah pembunuhan Presiden Mohamed Anwar el-Sadat, selain itu ia juga pemimpin partai Demokrat Nasional. Perdana Menteri Mesir Dr. Ahmed Nazif dilantik pada 9 Juli 2004 untuk menggantikan Dr. Atef Ebeid.
Kekuasaan di Mesir diatur dengan sistem semipresidental multipartai. Secra teoritis kekuasaan eksekutif dibagi antara presiden dan perdana menteri namun dalam prakteknya kekuasaan terpusat pada presiden, yang selama ini dipilih dalam pemilu dalam kandidat tunggal. Mesir juga mengadakan pemilu parlemen multipartai.
Pada akhir Februari 2005, Presiden Mubarak mengumumkan perubahan aturan pemilihan presiden menuju ke pemilu multikandidat. Untuk pertama kalinya sejak 1952. Rakyat Mesir mendapatkan kesempatan untuk memilih pemimpin dari daftar berbagai kandidat. Namun aturan yang baru juga menerapkan berbagai batasan sehingga berbagai tokoh seperti Ayman Nour, tidak bisa bersaing dalam pemilihan dan Mubarak pun kembali menang dalam pemilu.  Dan pada akhir Januari 2011 rakyat Mesir menuntut presiden Mubarak untuk meletakkan jabatannya. Hingga 18 hari aksi demonstrasi besar-besaran menuntut presiden Hosni Mubarak mundur, akhirnya pada tanggal 11 Februari 2011 Hosni Mubarak resmi mengundurkan diri.[1][1]

B.  Kondisi Demografi dan Potensi Income Negara
Mesir merupakan Negara terbesar  di wilayah Afrika Utara, tepatnya diantara 22˚LU - 32˚LU dan 25˚BT - 36˚BT. Luas negara ini mencapai 997.739 km² dengan  jumlah penduduk sekitar 76.117.430 jiwa. Rata-rata kepadatan penduduk di Mesir mencapai 77 jiwa/km². Wilayah Mesir yang luas tersebut kebanyakan didominasi gurun yang tidak layak untuk dijadikan tempat tinggal, sehingga penduduknya memusat di wilayah lembah sungai Nil dan di pesisir pantainya. Adanya penduduk asli yang tinggal secara nomaden di daerah gurun menyebabkan Mesir mengalami ketimpangan dalam hal penyebaran penduduk dan pendapatannnya. Meskipun memiliki banyak devisa, namun pendapatan perkapita penduduknya hanya mencapai 1.350 US dollar. Pendapatan tersebut didukung oleh beberapa kegiatan perekonomian diantaranya sebagi berikut[2][2] :
1.    Pertanian
Sektor pertanian menyumbangkan 17% perekonomian negara Mesir. Meskipun didominasi oleh wilayah gurun, namun Mesir mendapatkan berkah dari adanya aliran sungai Nil yang menyuburkan kawasan lembah dan deltanya. Mesir terkenal sebagai penghasil kapas, gandum, kurma, zaitun, dan serat papyrus (bahan baku kertas). Seiring dengan dibangunnya bendungan Aswan, maka pertanian Mesir semakin maju. Saat ini produk pertaniannya semakin berkembang dengan menghasilkan berbagai jenis buah-buahan, sayuran, padi, dan rumput-rumputan untuk makan ternak.
2.        Peternakan dan Perikanan
Selain sebagai petani, masyarakat Mesir juga banyak yang hidup beternak secara nomaden. Jenis hewan ternak yang dikembangkan secara tradisional adalah domba, biri-biri, dan unta. Adapun perikanan dibedakan atas perikanan laut dan perikanan darat. Perikanan laut banyak diusahakan di perairan Laut Merah dan perairan Laut Tengah, sedangkan perairan darat banyakdiusahakan di sungai Nil dan di kawasan bendungannya.
3.    Pertambangan
Hasil tambang utama Mesir adalah minyak bumi dan gas alam yang terdapat di pantai dan perairan laut Merah serta di kawasan gurun Libya dan semenannjung sinai. Selain hasil tambang utama tersebut, dikembangkan juga pertambangan fosfat, bijih besi, dan garam.
Sampai tahun 1990-an, negara ini masih swasembada gandum dan beras, malah bahan pangan pokok diekspor untuk negara-negara Timur Tengah. Kita pernah mengimpor beras dan gandum dari Mesir pada tahun 1980-an. Mesir juga mempunyai minyak walaupun tidak sebanyak Arab Saudi atau Kuwait. Produksi tertinggi dicapai pada tahun 1996 dengan volume 900.000 barrel per hari. Sejalan dengan naiknya harga minyak setelah tahun 1970-an, hasil minyak tersebut dipakai untuk menyubsidi harga pangan untuk rakyat yang cukup besar.[3][3]


C.      Filsafat Pendidikan yang Dijadikan Dasar Pengembangan Pendidikan
ketika berbicara mengeai pendidikan maka kita akan berbicara mengenai definisi pendidikan. Pendidikan merupakan aktifitas rasional yang membedakan manusia dengan makhkuk hidup lainnya. Hewan juga belajar tapi lebih ditentukan oleh instinknya. Manusia belajar melauli otaknya melalui rangkaian kegiatan menuju pendewasaan untuk mencapai kehidupan yang lebih berarti.
Pendidikan merupakan pilar utama terhadap perkembangan manusia dan masyarakat bangsa tertentu. Karena itu diperlukan landasan dan asas-asas tertentu dalam menentukan arah dan tujuan pendidikan. Beberapa landasan pendidikan yang sangat memegang peranan penting dalam membentuk tujuan pendidikan adalah landasan filosofis.
Abduh Ibnu Hasan Khairullah, filosofi islam di Mesir mengemukakan bahwa pendidikan bertujuan mendidik akal dan jiwa  serta mengembangkannya hingga batas-batas yang memungkinkan anak didik mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Proses pendidikan dapat membentuk kepribadian muslim yang seimbang, pendidikan tidak hanya mengembangkan aspek kognitif (akal) tapi perlu menyelaraskan afektif (moral) dan psikomotorik (keterampilan).[4][4]

D.      Potret dan Dinamka Penyiaran Agama Islam
Agama memiliki peranan yang sangat besar di negara Mesir. Secara tidak resmi adzan yang dikumandangkan lima kali sehari menjadi penentu kegiatan disana. Kairo juga dikenal dengan berbagai menara masjid dan gereja. Menurut konstitusi Mesir, semua perundang-undangan harus sesuai dengan hukum Islam. Negara mengakui madhzab Hanafi lewat kementrian Agama. Imam dilatih di ssekolah keahlian untuk imam dan di Univerits al-Azhar, yang memiliki komite untuk memberikan fatwa mengenai masalah Agama. 90% dari penduduk Mesir adalah penganut Islam Sunni dan sebagian juga penganut ajaran Islam sufi lokal. Dan 10% penganut agama Kristen.[5][5]
Sejumlah tokoh Agama yang mewakili gerakan Islam Mesir mengumumkan kerja sama baru-baru ini diantara berbagai gerakan Islam, secara umum menginginkan terbentuknya sebuah negara agama yang menerapkan hukum-hukum Allah. Mereka juga mengatakan bahwa mereka akan membentuk koalisi di pemilihan parlemen berikutnya dalam rangka memerangi kekuatan-kekuatan politik sekuler di negara Mesir.
Imam Al-Azhar Ahmad Al-Thayyib mengatakan bahwa hukum Islam (Syar’iah) harus tetap menjadi sumber utama negara paska-Mubarak lengser. Syaikhul Azhar Ahmad Al-Thayyib mengatakan bahwa Pasal 2 Konstitusi Mesir tidak boleh diubah atau ketegangan sektarian yang malah akan terjadi. Pasal 2 konstitusi Mesir mengatakan bahwa “Islam adalah Agama Negara. Arab adalah bahasa resmi, dan sumber utama hukum adalah hukum Islam (Syari’ah).[6][6]

E.       Kebijakan di Bidang Pendidikan Agama Islam
Lembaga fatwa Mesir (Daar Al Ifta ) merupakan salah satu pilar utama institusi Islam di Mesir. Institusi Islam ini sangat berperan dalam memberikan fatwa kepada masyarakat umum. Keberadaan dan eksistensinya ditopang oleh empat lembaga keagamaan, yaitu Al-Azhar asy-Syarif, Universitas Al-Azhar, Kementerian Wakaf dan Lembaga Fatwa Mesir.
Daar Al Ifta inilah yang merupakan salah satu tujuan studi banding delegasi dari Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama pada 24-28 Juni 2010, berkaitan upaya penerapan hukum syariah. Delegasi juga melakukan pembinaan pencatatan nikah rujuk di KBRI Kairo, serta mengunjungi situs-situs sejarah dan perpustakaan modern Alexandria.
[7][7]

F.       Sistem Manajemen pendidikan
1.         Otorita
Sistem pendidikan di Mesir adalah tanggung jawab Kementrian Pendidkan negara. Kementrian pendidikan bertanggung jawab  mulai dari pendidikan prasekolah sampai ke pendidikan tinggi dalam aspek perencanaan, kebijakan, kontrol kualitas, koordinasi dan pengembangannya. Pejabat-pejabat pendidikan di tingkat governorat bertanggung jawab atas pengimplementasianya. Mereka yang memilih lokasi, membangun dan melengkapi serta mengawasinya agar berjalan dengan baik. Mereka juga berusaha mendorong sumbangan dan partisipasi masyarakat. Ringkasnya, mereka bertanggung jawab atassegala sesuatu untuk menjamin terselenggaranya opersional sekolah dengan efisien.[8][8]
2.      Standar Pendidikan dan Tenaga Kependidikan
Sistem pendidikan saat ini mempertimbangkan sekolah persiapan (sekolah menengah pertama) sebagai jenjang terakhir untuk wajib belajar. Hampir 390,000 ribu guru yang bertugas di seklah-sekolah Mesir pada tahun 1990. Kira-kira 50% diantaranya mengajar di sekolah dasar, 22% di sekolah persiapan (sekolah menengah pertama), dan 16% di sekolah menengah atas. Hanya 17% yang mengajar di sekolah al-Azhar dan sekolah khusus.
Sampai akahiar 1990-an, kekurangan guru sudah biasa, dan siswa ditawari beasiswa untuk masuk ke institut pendidikan guru. Akhir-akhir ini jumlah suplai guru sudah melebihi pada beberapa sekolah dan daerah. Tetapi tampaknya dalam beberapa tahun yang akan datang akan terjadi kekurangan guru dalam beberapa bidang seperti guru bahasa dan guru-guru pendidikan khusus. Lebih jauh lagi, sekolah di pedesaan atau pedalaman sulit dilengkapi gurunya. Oleh sebab itu guru-guru baru harus terlebih dahulu mengajar beberapa waktu di pedesaan atau pedalaman sebelum diberi hak untuk diangkat sebagai guru tetap. Pendidikan guru saat ini dilaksanakan di universitas dengan masa belajar selama empat tahun sebagai pendidikan paling rendah untuk menjadi guru sekolah dasar dan sekolah menengah.[9][9]


3.      Pendanaan/Standar Pembiayaan Pendidikan
Pengeluaran pemerintah untuk pendidikan formal pada tahun 1988 adalah 18,5% dari total pengeluaran untuk masyarakat. Gaji menyerap 80%  lebih, sementara pengeluaran lain 20%. Investasi gedung meningkat pada awal tahun 1980-an dari 7% menjadi 13%. Masih saja tidak cukup gedung-gedung sekolah, dan apabila seluruh permintaan dipenuhi, pemerintah harus menyediakan biaya lebih dari E3 miliar pound (US$2,94 miliar) dalam masa 10 tahun yang akan datang.
Mesir menerima bantuan dari Bank Dunia, UNICEF, UNESCO, dan negara-negara sahabat seperti Amerika Serikat, German, Kerajaan Inggris, dan negara-negara Arab. Walaupun jumlah bantuan itu cukup besar, namum masih banyak lagi yang harus dicapai dalam bidang pendidikan, terutama dalam meningkatkan efisiensi manajemen dan belanja pendidikan.[10][10]
4.      Standar Pengembangan Kurikulum dan Sistem Penilaian atau Evaluasi Pendidikan
Di Mesir, kurikulum adalah hasil pekerjaan tim. Tim kurikulum terdiri dari konsultan, supervisor, para ahli, para profesor pendidikan, dan guru-guru yang berpengalaman. Biasanya ada sebuah panitia untuk setiap mata pelajaran atau kelompok pelajaran, dan ketua-ketua panitia ini diundang rapat sehingga segala keputusan dapat di koordinasikan. Kurikulum yang sudah dihasilkan oleh panitia diserahkan kepada Dewan Pendidikan Pra universtias yang secara resmi mengesahkan untuk diimplementasikan. Berdasarkan peraturan, kurikulum dapat diubah dan disesuaikan untuk mengakomodasikan kondisi setempat atau hal-hal khusus.
Pusat Penelitian pendidikan Nasional bertanggung jawab mengumpulkan informasi mengenai materi pengajaran berdasarkan kurikulum dan mengenai implementasinya dilapangan. Hasil penelitian itu disalurkan ke dewan kesekretariatan dan apabila diperlukan perubahan, sebuah penelitian dibentuk dan dibagi tugas untuk mempelajarinya dan merumuskan perubahan-perubahan itu. Sejumlah besar besar supervisor konsultan dari semua level bertemu secara reguler dengan guru-guru guna memberikan bimbingan dan untuk mengumpulkan informasi. Ada berbagai pusat latihan, sekolah percobaan, dan sekolah percontohan, yang bertujuan untuk pembaharuan kurikulum serta perbaikan metode mengajar.
Garis besar kurikulum ditentukan sebuah tim kecil mirip dengan tim yang diterangkan diatas dibentuk untuk menulis buku teks. Buku tes menurut kurikulum tidak persis saama dengan kurikulum yang dilaksanakan. Perbedaannya disebabkan oleh faktor seperti kondisi kelas, kurangnya alat peraga dan perlengkapan lainnya, dan kualitas guru bertentangan dengan apa yang digariskan dalam kurikulum, kebanyakan pengajaran masih berorientasi verbal. Materi pelajaran disiapkan oleh berbagai badan atau lembaga-lembaga termasuk panitia kurikulum dari semua jurusan para akademisi dan asosiasi guru mata pelajaran. Pada umumnya sekolah dan masing-masing guru mempunyai kebebasan yang agak luas dalam memilih materi pelajaran.[11][11]
Untuk pengembangan evaluasi pendidikan NCEE (National Center for Examinition Evaluation) atau pusat pengembangan Kurikulum dan Evaluasi Pendidikan yang terletak di al-Madina al-Munawara sreet, Kairo juga memiliki peranan penting. Lembaga ini merupakan lembaga independen yang diberi kewenangan yang bersifat otonomi oleh kementrian pendidikan Mesir yang didirikan untuk menyelenggarakan kebutuhan kajian saintifik untuk kebutuhan pengujian data, evaluasi pendidikan agar kurikulum yang telah ditetapkan dapat dicapai sesuai dengan target.[12][12]
Pengembangan evaluasi pendidikan dilakukan secara serempak pada siswa semua jenjang pendidikan dan mata pelajaran yang menjadi fokus pengembangan mencakup semua mata pelajaran. Sedangkan untuk pengembangan kurikulum yang juga menjadi tanggung jawab NCEE, semua mata pelajaran telah dikembangkan dalam bentuk buku pelajaran, yang disebarkan ke setiap sekolah. Untuk menunjang efektifitas penggunaan buku, NCEE juga mngembangkan sejumlah CD interakatif yang dapat digunakan pada proses pembelajaran siswa dan training guru.
BAB III
KESIMPULAN

Ø  Mesir merupakan Negara terbesar  di wilayah Afrika Utara, tepatnya diantara 22˚LU - 32˚LU dan 25˚BT - 36˚BT.
Ø  Kekuasaan di Mesir diatur dengan sistem semipresidental multipartai. Secra teoritis kekuasaan eksekutif dibagi antara presiden dan perdana menteri namun dalam prakteknya kekuasaan terpusat pada presiden.
Ø  Pendapatan didukung oleh beberapa kegiatan perekonomian  diantaranya pertanian, peternakan, perikanan dan  pertambangan.
Ø  Abduh Ibnu Hasan Khairullah, filosofi islam di Mesir mengemukakan bahwa pendidikan bertujuan mendidik akal dan jiwa  serta mengembangkannya hingga batas-batas yang memungkinkan anak didik mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Ø  Menurut konstitusi Mesir, semua perundang-undangan harus sesuai dengan hukum Islam.
Ø  Sistem pendidikan di Mesir adalah tanggung jawab Kementrian Pendidkan negara.
Ø  Mesir menerima bantuan dari Bank Dunia, UNICEF, UNESCO, dan negara-negara sahabat seperti Amerika Serikat, German, Kerajaan Inggris, dan negara-negara Arab.
Ø  Di Mesir, kurikulum adalah hasil pekerjaan tim. Tim kurikulum terdiri dari konsultan, supervisor, para ahli, para profesor pendidikan, dan guru-guru yang berpengalaman.
Ø  Pengembangan evaluasi pendidikan dilakukan secara serempak pada siswa semua jenjang pendidikan dan mata pelajaran yang menjadi fokus pengembangan mencakup semua mata pelajaran




DAFTAR PUSTAKA

Agustiar, Syah Nur. 2011.  Perbandingan Sistem Pendidikan 15 Negara.  Bandung: Lubuk Agung.
Kalla, M. Jusuf . 2011.“Mesir: Pangan, Minyak, “Revolusi”. Dalam  Kompas . 4 Februari 2011. Jakarta.
http://id.m.wikipedia.org/wik/mesir. Diakses, 23 Februari 2012,  jam : 23:05  wib.
http://www.crayonpedia.org/mw/Negaranegara_Yang_Digolongkan_Sebagai_Negara_Maju_dan_Berkembang_9.1 . Diakses, 24 februari 2012, jam: 23:00 wib.
http://www.pelita.or.id/baca.php?id=97532Diakses, 27 Februari 2012, Jam: 11:15 wib.
http : //yakuzay.blogspot.com/2010/06/sistempendidikan-di-mesir.html. Diakses, 23 februari 2012, jam : 23:30 wib.


[1][1] http : //id.m.wikipedia.org/wik/mesir. Diakses pada tanggal 23 Februari 2012,  jam : 23:05  wib.
[2][2] http:// www.crayonpedia.org/mw/Negara-negara_Yang_Digolongkan_Sebagai_Negara_Maju_dan_Berkembang_9.1 . diakses pada tanggal 24 februari 2012, jam : 23:00 wib.
[3][3] M. Jusuf Kalla, “Mesir: Pangan, Minyak, Revolusi”, (Jakarta: Kompas ,4 Februari 2011), hlm. 9.
[4][4] http: //sahabatilmucenter.wordpress.com/landasan-pendidikanfilsafat-ilmu/. Diakses pada tanggal 23 Februari 2012, Jam: 23 15 wib.
[5][5] http : //id.m.wikipedia.org/wik/mesir. Diakses pada tanggal 23 Februari 2012, jam : 23:05 wib.
[6][6]http://www.masjidalamanah.com/2011/04/perjuangan-umat-islam-di-mesir/. Diakses pada tanggal  25 Februari 2012. Jam : 09:32 wib.
[7][7]http://www.pelita.or.id/baca.php?id=97532. Diakses Tanggal, 27 Februari 2012, Jam: 11:15 wib.
[8][8] Syah Nur, Agustiar, Perbandingan Sistem Pendidikan 15 Negara (Bandungn : Lubuk Agung, 2011), hlm. 232.
[9][9] Ibid., hlm. 234-235 .
[10][10] Ibid., hlm. 233-234.
[11][11] Ibid., hlm. 235.
[12][12] http : //yakuzay.blogspot.com/2010/06/sistempendidikan-di-mesir.html. Diakses tanggal 23 februari 2012 , jam : 23:30 wib. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar